Welcome

We Write And We change!

Selasa, 26 Maret 2013

Belajar dari seorang pembaca menjadi seorang penulis

gambar ilustrasi
sumber gambar: edukasi.kompasiana.com

Untuk menjadi seorang penulis professional bahan bacaan orang tersebut harus lebih banyak, mengapa? Ya sederhananya yang pernah saya tulis sebelumnya di artikel RBI bahwa layaknya seorang guru, untuk menjadi guru yang terbaik (harus) mmerupakan murid yang terbaik atau pelajar yang terbaik, mengapa lagi?
Ya karena pekerjaan menulis adalah pekerjaan menyampaikan sebuah informasi (yang bermanfaat tentunya) kepada orang yang lebih banyak dan lebih luas jangkauanya dari sebelumnya sehingga sseorang penulis haruslah memiliki ilmu tentang gaya bahasa secara tulisan yang ia pelajari dari bacaan-bacaan yang ia pernah baca agar penulis tersebut dapat belajar membandingkan dan menemukan ciri khas/ perbedaan gaya bahasa bagi dirinya, misalnya yang pernah membaca suatu buku dan memperbandingkan gaya bahasa dari setiap buku tersebut pastilah menemukan perbeadaan gaya bahasa dari antara 1 tulisan (buku, artikel, makalah dll.) dengan yang lainnya dari yang menulis, walau mungkin sedikit ada yang sama namun boleh jadi tak serupa, ya serupa tapi tak sama, nah tinggal bagaimana sahabat pembaca sekalian menemukan gaya bahasanya masing-masing, karena antar manusia itu unik dan dikenal dengan bebagai bahasa (maupun gaya bahasa) yang digunakanya.

Pertanyaan selajutnya adalah bagaimana gaya bahasa tulisan anda? Apakah keunikan anda mau disamakan dengan orang lain? Mau menjadi yang paling best dari diri sendiri sendiri secara mandiri atau mau terus mem follow orang lain sampai-sampai disebut sebgai plagiator? :p Gak papa boleh jadi untuk masa belajar asal yang di follow adalah tentang sikap prilaku tentang kebaikan dan kebenaran serta sertakan sumber referensinnya juga, hehehe dijamin gak rugi, insyaAlloh.

  Ok itulah seseorang dapat dikenal dari bahasa yang ia gunakan, dimana ia memperoleh bahasa tersebut? ya tentunya dari membaca, membaca tulisan ataupun membaca situasi dan kondisi, maka dari itu bukan hanya aspek penglihatan saja yang kita gunakan untuk membaca, lha orang tuna netra aja masih bisa baca, hehehe, ya rekan-rekan kita masih bisa membaca dengan indra mereka yang lain terutama indra peraba, nah kan membaca tak harus menggunakan fungsi penghelihatan mata saja bukan?, bahkan hebatnya rekan-rekan yang tina netra tersebut masih dapat melakukan aktivitas normalnya walaupun sering dikatakan tidak normal, nak kita yang dikatakan orang normal bahkan terkadang masih ada aja juga yang sikap serta prilakunya belum bisa disebut sebagai manusia yang berakal maupun yang memiliki hati nurani, ya saya juga bukan manusia sempurna, masih banyak sekali kekurangan, yuk kita bersama-sama menyadarinya, mohon ampun padaNya dan senantiasa mensyukuri nikamat-nimat yang tak terhitung yang telah diberikan olehNya, ya sebut salah satunya masih bisa diberikan udara yang gratis, karena masih banyak saudara-saudara kita di RS yang secara kebanyakan masih memerlukan bantuan tabung untuk bernafas dan harganya mahal, coba cek sendiri harga oksigen per tabung dim bah google, jika tak salah bisa mencapai ratusan hingga jutaan rupiah menurut kuntitas oksigennya, allhualam.

Semua aspek indra dapat digunakan untuk membaca, ada seorang penulis (dosen dan politikus) yang bernama Hellen Keler terlahir tuna wicara, tuna netra dan tuna rungu namun tak buta hati, masih bisa mengunggkapkan gagasan-gagasan pendidikanya dalanm suatu tuisan bahkan buku, cek lagi nama tersebut dim bah google hehehe, than sekian dulu ya sob, insyaAlloh we will be counttinue our writing J
_to be countinue_

gambar ilustrasi
sumber gambar: programatujuh.wordpress.com 
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar